Kisah Seorang Filsuf Dalam Al-Qur’an
Tahukah teman-teman? Bahwa jauh sebelum Sokrates, Plato, Aristoteles dkknlahir ada seseorang dari negeri Babylonia yang telah mempelopori lahirnya filsafat yang kisahnya diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an, siapakah dia?. Mau tahu? Simak penjelasan berikut!
Namun, sebelum itu penulis ingin membahas dulu ‘apa itu filsafat?’
Jadi filsafat, falsafah, atau filosofi (berakar dari kata Yunani yaitu philosophia, arti “cinta akan hikmat”) adalah sebuah metodologi yang membahas pertanyaan-pertanyaan umum dan asasi, misalnya pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi, penalaran, nilai-nilai luhur, akal budi, dan bahasa. Istilah ini pertama kali diungkapkan oleh Pythagoras (570 SM – 495 SM). Metode yang digunakan dalam filsafat ini antara lain mengajukan pertanyaan, diskusi kritikal, dialektik, dan presentasi sistematik. Orang yang mendalami ilmu ini disebut sebagai seorang filsuf atau filosofi, sementara sesuatu yang berkaitan dengan konsep filsafat disebut “filosofis”, “filsafat”, atau “falsafi”.
Siapakah ‘filsuf’ yang dimaksud dalam tulisan ini?
Dia tak lain dan tak bukan adalah Nabi Ibrahim alaihis salaam.
Emang ada ayatnya bang?
Ada dong.
Jika teman-teman sekarang sedang memegang mushaf, teman-teman bisa buka QS. Al-An’am ayat 74. Dalam ayat tersebut, Allah ﷻ berfirman:
۞ وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚاِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Apakah (pantas) engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Al-An‘ām [6]:74
Dalam ayat diatas jelaslah bahwa Nabi Ibrahim mulai meragukan apa yang disembah oleh ayah dan kaumnya, yang dalam kata lain, Nabi Ibrahim mulai berpikir kritis, menanyakan segala hal yang menurut ayah dan kaumnya sebagai kebenaran. Hal ini tentu datang dari hidayah Allah ﷻ, sebagaimana ayat selanjutnya Allah ﷻ berfirman:
وَكَذٰلِكَ نُرِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ مَلَكُوْتَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِنِيْنَ
“Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”
Al-An‘ām [6]:75
Dalam pencariannya akan eksistensi Tuhan, Nabi Ibrahim mulai memperhatikan segala hal yang ada di sekitarnya, sebagaimana ayat selanjutnya menjelaskan secara detail:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
Al-An‘ām [6]:76
Ayat diatas menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as. mulai memperhatikan bintang-bintang yang gemerlap di langit, dia berkata “Mungkin ini Tuhan saya nih!?” Namun, ketika pagi datang, bintang-bintang itu lenyap seketika, Nabi Ibrahim kecewa, dia berpikir “masa Tuhan menghilang?, ndak mungkinlah Tuhan lenyap”. Karena merasa tidak puas, dia pun kembali mencari Tuhan. Dalam perenungannya, dia memerhatikan bulan, Allah ﷻ berfirman:
فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ
“Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”
Al-An‘ām [6]:77
Namun, seperti sebelumnya sebagaimana bintang-bintang lenyap, bulan pun lenyap ketika pagi tiba dan itu kembali membuat Ibrahim kecewa. Di tengah-tengah perenungannya, sebuah cahaya menyusup ke balik penglihatannya. Dia pun terperanjat dan melihat sesuatu yang lebih ‘agung’ dari yang dilihat sebelumnya, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
“Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”
Al-An‘ām [6]:78
Akan tetapi ketakjuban itu menjadi sebuah nelangsa baginya ketika malam tiba dan ‘Tuhan’ yang diyakininya itupun lenyap di ufuk barat. Dia dilema akan eksistensi Tuhan. Di terus berpikir hingga dia pun berkata, ‘Semua yang saya lihat ini bersifat terbatas, dan Tuhan tidak mungkin dapat dibatasi oleh apapun’, ‘Jika dunia ini begitu tertata rapi, siapa yang menciptakannya?’ ‘Ah, pasti Tuhan’. Dan hasil dari perenungannya ini diabadikan dalam Al-Qur’an dengan kalimat:
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
Al-An‘ām [6]:79
Jika kita kaitkan segala kegiatan yang dilakukan Ibrahim as. dalam ayat-ayat diatas maka kita bisa melihat sebuah pola 'nalar' yang mencirikan seseorang dengan karakteristik filsuf, sebagaimana definisi dari filsuf ialah seseorang yang mendalami ilmu filsafat dan filsafat sendiri terkait dengan pencarian eksistensi akan sesuatu dan disini Ibrahim mencari akan eksistensi Tuhan, maka bisalah dikatakan bahwa Ibrahim as. adalah seorang filsuf.
Inilah filosofi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, inilah teladan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahwa Tuhan tidak pernah lenyap, Dia ada di setiap rinci dan detail kehidupan. Oleh sebab itulah benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Athiyah, bahwa : “Apabila akal meningkatkan perhatiannya kepada seluruh yang maujud, maka batas akhirnya adalah wujud Tuhan”.
Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa teruslah berpikir kritis karena akhir dari segala yang maujud adalah wujud Tuhan.
Terima kasih, Wassalam.
Andrias Lau
15 Januari 2025
Komentar
Posting Komentar