Tafsir Ath-Thabari

Kitab tafsir ini dianggap sebagai kitab tafsir yang paling otoritatif sepanjang zaman, untuk lebih mengenalnya lebih lanjut silahkan baca artikel dibawa, hehehe:
Kitab tafsir ini disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Galib ath-Thabari, yang lahir pada akhir tahun 223 H/839 M di Amal, ibukota Tibristan, Iran dan wafat pada bulan Syawwal tahun 310 H/925 M, beliau dimakamkan di dalam rumah beliau sendiri.
Kitab tafsir ini pertama kali disusun pada tahun 306 H. Seluruhnya terdiri dari 12 jilid, dengan tebal 3000 lembar. Tafsir ini tergolong dalam kategori tafsir bil ma’tsur bahkan dianggap sebagai ‘raja’ dari segala kitab tafsir. Dalam menafsirkan sebuah ayat beliau menggunakan beberapa pendekatan di antaranya: fiqih, nahwu, qiraat dan bahasa. 
Ath-Thabari menafsirkan seluruh ayat di dalam Al-Qur’an. Mula-mula, beliau menyebutkan nama ayat dan beberapa riwayat yang berhubungan dengan penetapan nama surah tersebut, jika memang ada. Menyebutkan sabab nuzul beserta riwayat yang menyertainya. Akan tetapi, beliau tidak menyebutkan surah tersebut termasuk dalam kategori makkiyah atau madaniyah, akan tetapi langsung menafsirkan ayat yang dimaksud. 
Dalam mengutip suatu riwayat, mula-mula, beliau menyandarkannya kepada Hadis yang sanadnya sahih atau sampai akhir sanad meskipun tidak sampai Rasulullah. Akan tetapi, jika sanadnya tidak kuat maka beliau tidak mengutip riwayat tersebut atau dengan mengatakan bahwa riwayat tersebut cacat. Kemudian, beliau sebutkan beberapa riwayat yang ada. Lalu mentarjih atau menjama’nya (tanpa ditarjih).
Metodologi yang digunakan ath-Thabari, dalam menyikapi banyak riwayat, memang berbeda dengan metode ahli hadis, yang hanya menunjukkan beberapa riwayat tanpa mentarjihnya atau menunjukkan pendapatnya sendiri. 
Az-Zahabi berkomentar sekitar metode ath-Thabari ini: “Setiap kali hendak menafsirkan ayat, ath-Thabari selalu mendahului dengan kata ta’wil, misalnya dengan mengatakan, ta’wil ayat ini adalah demikian…..baru kemudian beliau menafsirkan ayat tersebut dengan memakai metode bil -ma’tsur. Apabila terdapat dua pendapat atau lebih, beliau menampilkan semua pendapat tersebut dan masing-masing diperkuat dengan riwayat-riwayat, baik yang bersumber dari sahabat maupun tabi’in. Beliau tidak hanya berpegang kepada penafsirannya sendiri, tetapi selalu menampilkan beberapa pendapat yang lain dan menarjihnya, termasuk yang terkait dengan kedudukan kalimat (I’rab). Begitu juga yang beliau lakukan terhadap ayat-ayat hukum.” 
Di antara ciri khasnya adalah jika tidak ditemukan riwayat  yang kuat terkait suatu ayat, maka beliau berijtihad sendiri. Dalam hal ini, beliau bersandar pada kaidah-kaidah kebahasaan, termasuk beberapa qira’at, lalu menarjihnya. Jika masing-masing qiraat tersebut memiliki jalur riwayat yang kuat, maka beliau menghimpun semuanya kemudian menyebutkan deretan sanad-sanad tersebut dengan cara yang sangat mengagumkan yang tidak pernah dilakukan oleh para mufassir lainnya.
Beliau dalam penafsirannya sangat menekankan untuk mensandarkan pada riwayat, beliau menolak secara tegas penafsiran hanya dengan menggunakan ra’yu atau logika semata, karena menurut beliau, hanya dengan penafsiran bil ma’tsur lah seorang penafsir dapat memperoleh satu penafsiran yang tepat dan benar. Tidaklah beliau menggunakan ra’yu kecuali dengan bersandar pada kaidah kebahasaan untuk melihat apakah penafsiran tersebut batil atau tidak. Dalam hal ini, beliau menyatakan:
“Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadap pendapat ulama-ulama salaf, mencoba menafsirkan kalimat wa fihi ya’shirun dengan penafsiran wa fihi yanjun. Ia mengira kalimat tersebut terambil dari kata al-‘ishr. Penafsiran semacam ini jelas-jelas menyalahi atau bertentangan dengann pendapat para sahabat maupun tabi’in.”
Meski sudah demikian teliti, dalam memilih riwayat isra’iliyyat dan riwayat yang maudhu’ beliau tidak selektif. Kenapa? Saya kurang tau. Mungkin ada teman-teman yang dapat membantu mencari jawaban. Tulis di kolom komentar!
Hal ini sebagaimana keterangan dari Abu Syahbah, bahwa “Di dalam tafsir ath-Thabari, banyak ditemukan riwayat-riwayat tanpa ada penjelasan, mana yang shahih dan mana yang dhai’f. Sebab, di kalangan ahli hadis berlaku bahwa penyebutan hadis tanpa disebutkan statusnya akan mengurangi kredibilitas penulisnya jika riwayat tersebut diambil sebagai rujukan.”
Penafsiran Ath-Thabari juga tidak bersih dari riwayat-riwayat yang munkar, dha’if, dan israiliyyat. Contohnya, bisa kita lihat dalam penafsiran beliau tentang kisah-kisah para Nabi dan pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Zainab binti Jahsy. Alasan yang cukup rasional untuk menjelaskan hal tersebut adalah karena beliau penafsir bil ma’tsur sejati, sehingga dalam hal ini beliau lebih mementingkan riwayat daripada logika atau ra’yu.
Disamping kekurangan dan kelebihan yang ada, tafsir ath-Thabari dianggap sebagai kitab tafsir paling otoritatif (Ashah al-Tafsir ba’d al-Qur’an), terkhusus dari segi penyantuman riwayat. Hal ini juga menjadi indikasi atau gambaran pada generasi beliau telah muncul berbagai macam disiplin ilmu seperti hadis, tafsir, qiraat, lughat, nahwu, syi’ir-syi’ir Arab, Fiqih, yang menjadi karakteristik dalam penafsirannya.

Sumber:. “Ensiklopedia Kitab-Kitab Tafsir: Kumpulan Kitab-Kitab Tafsir dari Masa Klasik sampai Kontemporer” oleh Dr. Ahmad Husnul Hakim IMZI, MA.
Terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat Dalam Al-Quran

Inisiator